By aftian | August 21, 2009 - 8:47 pm - Posted in Agama
By aftian | August 18, 2009 - 11:48 pm - Posted in Uncategorized
Pendiri (mu’assis) Thoriqoh Qodiriyah adalah Wali agung Sayyid Syaikh Abdul Qodir bin Musa Al-Jilany radliallahu anhu (470-561H). Jalur nasab ayahnya sampai pada Sayidina Hasan, sedang ibunya sampai pada Sayidina Husain.
Beliau telah meletakkan dasar-dasar yang kokoh dan prinsip-prinsip yang benar untuk thoriqohnya yang agung dalam kitabnya Al-Ghaniyah li Tholibii Thoriqil-Haq dan kitabnya Al-Fath Ar-Rabbani wal Faidl Ar-Rahmaniy.
Disamping itu beliau juga perintahkan pada muridnya untuk berdzikir kepada Allah Subhanahu wa ta’ala pada malam hari, siang hari dan setelah shalat lima waktu,agar dapat wushul kepada-Nya.
Diantara nasehat-nasehatnya yang terkenal antara lain:
“Janganlah seseorang menghukumi syirik, kufur atau nifaq kepada satu orang pun dari ahli qiblat (orang yang melaksanakan shalat). Karena hal itu tidak akan mendekatkan pada sifat kasih sayang dan tidak akan meninggikan derajat, justru akan menjauhkan diri dari merasuknya ilmu Allah Subhanahu wa ta’ala. Tidak akan menjauhkan nya dari murka Allah dan tidak pula mendekatkan pada ridla Allah dan rahmatNya.
Perbaikilah akhlaq, karena ia adalah pintu keagungan dan kemuliaan di sisi Allah, yang akan menyebabkan seorang hamba bersikap kasih sayang kepada makhluk semuanya.”
“Belajarlah fiqh, dan ‘uzlahlah.”
“Amal shaleh adalah perkerjaan yang hanya bisa dikerjakan oleh orang yang bisa srawung (bergaul) dengan Allah dengan kejujuran.”
“Hakekat syukur adalah pengakuan bahwa semua kenikmatan yang dialami datangnya dari Sang Pemberi Nikmat , yaitu Allah Subhanahu wa ta’ala .”
Thoriqoh Qodiriyah ini penganutnya tersebar meluas di Iraq, Mesir, Sudan, Libya, Tunisia, Al-Jazair, Daratan Afrika, dan juga Indonesia.
By aftian | - 11:46 pm - Posted in Thoriqoh Qodriyah wan Naqsabandiyah
Peletak dasar Thoriqoh Naqsyabandiyah ini adalah Al-Arif Billah Asy Syaikh Muhammad bin Muhammad Bahauddin Syah Naqsyabandi Al-Uwaisi Al- Bukhori radliyallahu anhu (717-865 H) .
Dijelaskan oleh Syaikh Abdul Majid bin Muhammad Al Khaniy dalam bukunya Al-Hada’iq Al-Wardiyyah, bahwa thoriqoh Naqsabandiyyah ini adalah thoriqohnya para sahabat yang mulia radlallahu anhum sesuai aslinya, tidak menambah dan tidak mengurangi. Ini merupakan untaian ungkapan dari langgengnya (terus menerus) ibadah lahir bathin dengan kesempurnaan mengikuti sunnah yang utama dan ‘azimah yang agung serta kesempurnaan dalam menjauhi bid’ah dan rukhshah dalam segala keadaan gerak dan diam, serta langgengnya rasa khudlur bersama Allah Subhanahu wa ta’ala, mengikuti Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam dengan segala yang beliau sabdakan dan memperbanyak dzikir qalbi.
Dzikirnya para guru Naqsyabandiyah adalah qalbiyah (menggunakan Hati). Dengan itu mereka bertujuan hanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala semata dengan tanpa riya’, dan mereka tidak mengatakan suatu perkataan dan tidak membaca suatu wirid kecuali dengan dalil atau sanad dari kitab Allah Subhanahu wa ta’ala atau sunnah Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam.
Asy-Syaikh Musthofa bin Abu Bakar Ghiyasuddin An-Naqsyabandiy menyatakan dalam risalahnya Ath Thoriqoh An-Naqsabandiyah Thoriqoh Muhammadiyah, bahwa thoriqoh ini memiliki tiga marhalah (tingkatan);
a. Hendaklah anggota badan kita berhias dengan dzahirnya syari’ah Muhammadiyah.
b. Hendaklah jiwa- jiwa kita bersih dari nafsu- nafsu yang hina, yaitu hasad, thama’, riya, nifaq, dan ‘ujub pada diri sendiri. Karena hal itu merupakan sifat yang paling buruk dan karenanya iblis mendapatkan laknat.
c. Berteman dengan shadikin (orang-orang yang berhati jujur)
Thoriqoh Naqsyabandiyah ini mempunyai banyak cabang aliran thoriqoh di Mesir.
Tanggalan
Kategori
Arsip
Social Network
A f t i a n
BlankOn

Create Your Badge

